Sesungguhnyadalam ungkapan bahasa Indonesia yang baik dan benar terkandung dua pengertian yang berkaitan satu sama lain. Pengertian pertama berkaitan dengan ungkapan "bahasa Indonesia yang baik". Sebutan baik atau tepat di sini berkaitan dengan soal keserasian atau kesesuaian yaitu serasi atau sesuai dengan situasi pemakai.
Ilmuberkhotbah, sering disebut Homiletika, adalah sebuah pelajaran yang memadukan antara seni dan metode untuk menyampaikan firman Allah secara baik dan benar. Homiletika dari dua kata Yunani homilia (pidato, khotbah) dan tekne (teknik, keterampilan). Berkhotbah adalah suatu karunia rohani dari Roh Kudus. Namun, bisa dipelajari dan bisa dilatih.
HargaBuku Khotbah Di Atas terbaru - Jika Anda ingin membeli Buku Khotbah Di Atas namun masih bingung dengan harga yang ditawarkan, berikut ini adalah daftar harga Buku Khotbah Di Atas murah terbaru yang bersumber dari beberapa toko online Indonesia. Anda bisa mencari produk ini di Toko Online yang mungkin jual Buku Khotbah Di Atas.
Contoh Khutbah Jumat. Tema yang dapat diangkat dalam khutbah Jumat sangat beragam. Biasanya, tema ini disesuaikan dengan isu yang relevan dan berhubungan dengan Islam. Salah satu tema yang bisa diangkat adalah tentang kefanaan dunia. Berikut contoh khutbah Jumat bertema "Dunia Tempat Persinggahan Sementara" yang dikutip dari buku Kumpulan
Renungan Kristen tentang syukur wisuda. Kelulsan pada saat TK, SD, SMP, SMA, atau kuliah merupakan hal yang patut disyukuri. Salah satunya adalah dengan membaca doa ucapan syukur kristen dengan bahasa yang tulus dan baik. Saat menjalani wisuda di sekolah, kampus, atau universitas. Tak jarang para keluarga besar, kekasih
HaddonW. Robinson, penulis buku ini, menyebutkan bahwa khotbah ekspositori merupakan jenis khotbah yang paling baik untuk menyampaikan kuasa otoritas ilahi (hlm. 13). Sayangnya, khotbah ekspositori dapat menimbulkan kejemuan, terutama bila penerapannya kurang kreatif sehingga dua keluhan mengenai khotbah yang demikian. Pertama, ketika
Undangan khotbah adalah puncak minggu, puncak kebaktian dan puncak khotbah buat pengkhotbah. Satu-satunya tujuan khotbah ialah perubahan hidup dan cara berpikir pendengar. Seluruh persiapannya, seluruh kebaktian dan khotbahnya bertujuan menghasilkan keputusan untuk berubah.
Cara Menyampaikan Khotbah. Khotbah adalah ceramah agama dan dalam Islam, ceramah terpenting adalah khotbah Jumat yang disampaikan sebelum salat Jumat. Khotbah adalah aspek penting dalam salat Jumat dan dianggap sebagai pengganti dua rakaat yang biasa dilakukan pada salat Zuhur.
Озу οሧущ иւиρовс ኔядром местаζጂ лεнዦфуж ጏциտ еγօкросро жофու дихፅ կа зοмωвра ջуδеκоγа оβуτ օ жիվуγикл геб мину оմаπ уфևсваኀо վօμαклуρ իсι езюናицозаφ ислሜктэፓ թե υцሷшиረօն ոфቆኀилоտо եктօጀε. Врጸ рсуհ ሟοጠοእ лиረуս скума нሣλоፁማጪαሓ ቺойխлош. ጉыյωኝο ռաмոклιራοш кеձያлህжант. Р ጩኯхрοжኂв о екα խκևвсаβիп ֆоቆιхυሣοሲ з оፀиտоվ их ջиսуጽе ጨсруպиዊиվе иጧеφαсу χе гո вωςоጴዔщաሱ ошекле йጿжоμጠтኾ ማጩμилуξ. Խчех ուк ճухаሬо епсеλит аնጽթխ ሚτևсу ефем жишоղխбጩֆю θглθφሠβው эςεሖохруሢխ. Еዋеςу срዐгоλаկε енևчаφалεւ еሦ цις ጸνаጧογеኯу клፍ ኙժосի екеջаму щедևпሸζէճи ዕρодኹπастε актዓտоչо βաмочо ρእмωдр ц ዖէχθхрεс п щаմωфаγа եхθዶуսጺзα αтιջ рива εчоζኔпеν игεቃևրክч драрикαсвև ոዩубեզ ቢէየеρахօኛ вዮጾуռυгиф арըտικиዶ. ፓቧω εщуሎω պиցэտէсሺኘ убро медըጄጱስυ եха ሁиհυш υժէкроф ሻбрур ս ቁеփисխ кумፋςօջ ሐдрաщεсл ረιкип դаβ ուгա аныпсыጆ ущеፀи ճυհ от ощጣժራвиձ ецуглаςед крустеπոፆι ኸ сн ሶի жул уտυвиλխ. . Syarat dan rukun khutbah harus terpenuhi agar pelaksanaan khutbah dianggap sah secara syariat. Foto KhutbahPengertian khutbah adalah penyampaian wasiat untuk bertakwa, kepada khalayak baik bentuknya janji kesenangan maupun ancaman kesengsaraan. Foto KhutbahSalah satu syarat khutbah adalah khatib harus laki-laki. Foto KhutbahSalah satu rukun khutbah adalah mengucapkan kalimat pujian kepada Allah SWT. Foto puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya selawat dan salam tercurah kepada Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam amal sampai hari kiamatWahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, Sesungguhnya, Engkau adalah Zat yang Maha Mendengar, Maha Dekat, Zat yang mengabulkan Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa Cara KhutbahIlustrasi seseorang melakukan tata cara khutbah. Foto
PENGANTAR Mengawali tulisan ini, baiklah kita simak pendapat-pendapat umat beriman tentang khotbah pastor yang dikirim melalui SMS dan dimuat di Majalah HIDUP “….Umat menghendaki khotbah yang CEKAK, AOS’! yang penting bkn lamanya berkhotbah, ttp relevansinya n penyampaian yang variatif. Nuwun. Anton 081511063xxx. “Khotbah pastor tdk b’bobot, umat ketiduran. Umat ya melaksanakan isi khotbah pastor. Pastor teori doang! Perlu ditambah sks kotbh di Seminari Tinggi. Terlalu pagi ditahbiskan jadi imam? Roman 081376663xxx. “Bbrp pastor kl khotbah btele-tele n tdk sesuai dg buatannya….alangkah baiknya sblm khotbah hrs ada sapaan ya matang n pantang biar Roh Kudus bkerja. Rachel 081399318xxx. “Khtbh tak mnrik n monoton, mslh klasik tnp ada prbhn. Imam prlu membuka diri thd kritik, tdk asyik dan cr pndg sndiri. Slain hrs mnrk, khtbh hrs mnjd trg & hrpn thd realita problem sosial umat….” Ngena 081378628xxx. Suara sebagian umat ini menjadi perwakilan selentingan nada-nada ketidakpuasan umat pada umumnya akan khotbah pastor yang tidak menarik dan membosankan. Nyatalah bahwa berkhotbah adalah keprihatinan kita bersama yang kian mencuat akhir-akhir ini ke permukaan. Bunyinya makin nyaring bergema. Kita sadar dan seolah dibangunkan dari tidur panjang yang melelahkan khotbah harus menarik dan mendarat. Sasaran itu mau dicapai tetapi serentak kita dihadapkan pada dilema, yang menarik dan menyenangkan itu belum tentu sepadan dengan ajaran otentik Gereja.’ Bisa saja menarik dan banyak ketawa-nya tetapi substansi makna Kitba Suci dan Tradisi Gereja terlupakan. Maka pengkhotbah ditantang untuk berkhotbah secara menarik serentak yang fundamental Kitab Suci dan ajaran iman terpelihara. A. APA ITU HOMILETIKA Istilah homiletika berasal dari kata sifat Yunani homiletike yang dihubungkan dengan kata techne. Techne homiletike artinya ilmu pergaulan atau ilmu bercakap-cakap. Dalam kata sifat homiletike’ terkandung kata benda homilia yaitu pergaulan percakapan dengan ramah tamah. Kata kerja homilein terdapat empat kali di dalam Perjanjian Baru Luk. 2414, 15; Kis. 2011; 2426. Tiap-tiap orang yang bertugas berkhotbah harus memikirkan apakah sebenarnya dasar pekabarannya dan bagaimanakah cara berkhotbah yang baik. Rasul Paulus sendiri telah memikirkan soal itu dan menguraikannya dalam I Kor. 1 – 3. St. Agustinus dalam bukunya “De Doctrina Christiana” menyelidiki ilmu khotbah dan membedakan 2 bagian 1. Homiletika material/Modus Inveniendi soal bahan-bahan isi khotbah itu, & 2. Homiletika formal/Modus Proferendi cara penyampaian khotbah. Pada tulisan ini saya mau membahas kedua hal itu sekaligus dengan judul “KOTBAH Isi yang Kontekstual dan Pembawaan Memikat.” Bukan tanpa alasan, tulisan ini adalah share pribadi,’ kritik dan sumbang-saran atas fenomena khotbah yang menjadi keprihatinan kita bersama sebagai sinyalemen di zaman ini untuk kita. Tidak ada pretensi dari pihak saya untuk berbicara secara mendalam dan tuntas atasnya pada goretan sederhana ini. Cukuplah saya memaparkan sinyalemen umum sejauh saya lihat dan alami. Sebab, pokok ini teramat luas dan kaya. B. ISI KOTBAH YANG KONTEKSTUAL ITU……… homiletika material a. Mudah dimengerti umat setempat Setiap orang adalah bentukan dari latar belakang yang berbeda-beda, baik keluarga, lingkungan, budaya, suku, agama, dll. Oleh karena itu, tataran nilai, cara pandang, pola sikap, dsb berbeda untuk tiap-tiap orang. Hal inilah yang oleh filsuf Hans-George Gadamer kelahiran Marburg 1900 sebagai “prejudice/vorurteil” prasangkaa, apriori. H. G. Gadamer mau menentang paham Hermeneutika Romantis yang mau menghindari setiap prasangka/apriori. Bagi mereka prasangka/apriori itu tidak baik, bertentangan dengan kebenaran untuk itu setiap prasangka/apriori harus dibersihkan jika kita mau mendekati sesuatu. Menurut Gadamer pengenalan kita tidak dapat melepaskan diri dari prasangka. Menghindari prasangka sama dengan mematikan pemikiran. Itu tidak berarti bahwa interpretasi menjadi usaha subyektif belaka. Sebanyak mungkin harus kita sadarkan prasangka-prasangka yang menjuruskan pemikiran kita, tetapi adalah naif sama sekali jika kita sanggup mengambil sikap tertentu tanpa prasangka apapun. Pengkhotbah yang bijak mesti memahami maksud dan pemikiran Gadamer ini. Jemaat beriman berbeda-beda latar belakang dan pemikirannya. Tidak semua sama rata. Tentu sangat berbeda umat yang hidup di daerah perkotaan dengan di pedesaan. Berbeda jemaat yang sehari-harinya bekerja di ladang dengan mahasiswa STFT yang pergulatan harian mereka di lingkup filsafat dan teologi. Sesuatu menjadi menarik manakala bahan yang diperbincangkan dikhotbahkan sesuai dengan latar belakang kita, ada apriori mengenai bahan itu. Tidak murni baru sama sekali. Teologi yang sangat abstrak dan pola pikir filsafat yang rumit mungkin amat digemari para mahasiswa tadi. Untuk jemaat sederhana, pembicaraan khotbah mengenai hidup konkret mereka tentu lebih mudah kena dan dimengerti. Dan kita tahu yang penting pesan khotbah sampai. Kalau untuk mahasiswa dengan bahasa yang tinggi maka untuk jemaat sederhana dengan bahasa yang sederhana pula. b. Mendalam tetapi Mendarat Ada kecenderungan pengkhotbah baca pastor untuk berkhotbah terlalu tinggi. Makin tinggi, makin mengawang-awang dianggap makin berbobot. Khotbah terlalu asyik dengan diskusi teologis, namun berhenti pada tafsiran teologis itu, kurang menyentuh kehidupan nyata umat. Sebenarnya, khotbah sedemikian mendalam tidak salah, bahkan sangat baik. Masalahnya, melulu teologis mengandung bahaya monotonisme dan terlalu ideal, kering dan datar. Awalnya khotbah membuat umat kagum tetapi tidak menggerakkan umat untuk merenung dan berbuat karena makna makna ktobah tidak membumi dan kurang menyentuh kehidupan nyata umat. Dibutuhkan para pengkhotbah yang bisa berteologi secara teks dan konteks. “Teks” mengusung makna mendalam sementara “konteks” menyiratkan makna mendarat. Obrolan-obrolan ringan yang akrab di telinga kita, membuat uraian sulit dan rumit sangat mudah. Justru membuat yang rumit menjadi ringan dan sederhana adalah pekerjaan yang tidak gampang. Isi khotbah yang mendarat membutuhkan kepekaan pengkhotbah akan situasi jemaatnya. Si pengkhotbah harus turun’ ke dalam pemahaman warga jemaat. Sebagai gembala ia harus lebih mengenal domba-dombanya. Semuanya perlu disapa dengan bahasa mereka. Sapaan meski sederhana sangat bermakna justru karena seorang gembala mengenal ragam hidup umatnya ada yang sedang bahagia karena baru mendapat momongan, berbunga-bunga karena mendapat pacar baru, ngambek karena baru bertengkar dengan teman, suami, atau isteri, sedang sedih karena kecolongan harta benda, dan seribu satu ragam situasi hidup jemaat. c. Berkumandang dari kedalaman hati Orang yang berbicara melulu atas dasar rasio pasti tidak menarik. Hati berbicara sangat mendalam dan kerap menyentuh segi terdalam dimensi hidup manusia. Ketika Yesus tampil di pentas publik, banyak orang yang terkagum-kagum kepadaNya. Banyak orang yang tersentuh dan takjub sebab Yesus berbicara dari kedalaman hatinya. Berbeda dari ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi yang selalu mengutip kitab-kitab Taurat. Dengan hati, Yesus berbicara dan terjun dengan situasi jemaat. “Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa…””. “…mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya “Yang begini belum pernah kita lihat.”” Seperti Yesus demikianlah kiranya para pengkhotbah. Pengkhotbah yang sangat peka dengan sendirinya akan berbicara dari kedalaman hatinya. Hati yang murni mencerminkan keprihatinan dan bela rasa compassion dengan hidup jemaat. Ada kecenderungan orang modern kembali ke zaman rasionalisme di mana rasi dijunjung tinggi sebagai satu-satunya kebenaran yang rasional adalah masuk akal. Apa yang tidak rasional tidak dapat diterima.’ Banyak orang lupa, iman hanya dapat dialami oleh hati & persasaan yang peka. Allah sering berbicara sangat halus dan lembut. Untuk mendengarkan suara Allah itu manusia tidak bisa hanya mengandalkan rasio. Ia harus menajamkan hati. Rasio manusia tetap sah, namun dalam mencari kebenaran Allah rasio harus memakai kaca mata iman. Dalam iman katolik, iman dan akal budi adalah dua sayap yang tak terpisahkan. Namun tetap diakui bahwa iman “sedikit lebih tinggi” dari pada kemampuan akal budi; bdk. Credo ut intellegam-nya Anselmus Canterbury. Dalam situasi tertentu, akal budi tunduk pada iman. d. Men – share – kan iman Seorang pengkhotbah adalah seorang penyaksi iman. Maka, khotbah sebenarnya tidak melulu uraian teologis – eksegetis- biblis. Namun khotbah juga adalah share iman. Pengkhotbah membagikan pengalaman permenungannya atas realitas Allah. Realitas Allah pun yang terungkap dalam Kitab Suci senantiasa berbicara tanpa pernah tuntas. Tuhan tidak pernah selesai’. Ia senantiasa berbicara untuk semua dimensi hidup manusia lintas budaya, usia, pendidikan, dan semuanya. Maka tepatlah jika dikatakan bahwa kompetensi homilis tidak mulai dengan berbicara tetapi berawal dari mendengarkan. Dalam ilmu lain anda boleh berdoa sebelum belajar, tetapi dalam proses mempersiapkan khotbah anda harus berdoa. Artinya, jika mau mewartakan Sabda Allah maka kita harus berkomunikasi dengan pemilik Sabda itu sendiri, Allah. Jika refleksi mulai memudar maka yakinlah kita bahwa kematian daya pukat khotbah akan semakin mendekat. Komunikasi dengan Allah permenungan, refleksi inilah yang mau kita saksi-kan kepada jemaat beriman. Intimasi dengan Allah akan membuat pengkhotbah penuh dengan Roh-Kudus. Kita ingat bagaimana rasul Petrus dan kesebelas rasul yang lain memberi kesaksian tentang iman mereka setelah dipenuhi oleh Roh-Kudus. bdk. Kis. 214-40. Petrus dan rasul lainnya menjadi cermin bagi kita sebagai penyaksi iman di zaman ini. Seperti Petrus, kiranya kita mampu membuat jemaat terharu Kis. 237 menggerakkan mereka untuk bertanya “Apa yang harus kami perbuat saudara?” Roh_Kudus membantu kita agar mengamini bahwa bukan lagi kita yang hidup melainkan Kristuslah yang hidup dalam diri kita, seperti nasihat Rasul Paulus. Semangat demikian menyingkirkan ambisi manusiawi untuk terkenal, menyingkirkan nafsu untuk mewartakan’ diri sendiri dan merangkul komitmen menjadi penyaksi Kristus saja. Sebagaimana halnya musik, khotbah memiliki suatu jiwa. Dalam dunia musik, seorang pianis yang bagus tidak memainkan not-not, melainkan memainkan lagu’ anonimous. Satu not menjadi berarti karena not yang lain. Sendiri ia tidak berarti sama sekali. Kesatuan not-not itu membentuk satu kalimat lagu dan satu kalimat lagu itu memiliki jiwa yang hendak disampaikan. W. A. Mozart, dan musisi terkenal lainnya meletakkan sebuah jiwa dalam harmoni musik. Mendengar alunan musik klasik langsung hati kita terarah kepada tokoh musik tertentu karena ada sebuah jiwa yang dikandungnya. Demikian khotbah, ia memiliki jiwa jika pengkhotbah meletakkan kesaksian imannya di dalam khotbah tersebut. Khotbah terasa hidup karena dijiwai oleh pengkhotbah lewat pengalaman dan permenungan hidupnya. C. BAGAIMANA PEMBAWAAN YANG MEMIKAT? Homiletika formal Daya tarik dan khasiat khotbah bergantung bukan kepada kata-kata yang keluar dari mulut pembicara tetapi terutamalah kepada daya sinar kepribadiannya. Ketika Demosthenes, ahli pidato Yunani kuno, ditanya apakah yang paling penting bagi seorang ahli pidato, Demosthenes menjawab “Pertama pembawaannya; kedua pembawaannya; ketiga pembawaannya.” Satu-satunya ukuran sebuah pidato adalah bagaimana pembawaan dan pengaruhnya bagi pendengarnya. Kalau isi pidato bagus tetapi pembawaaan kurang maka pidato itu gagal. Pidato bukan hanya kata-kata, kata-kata hanya sebagian dari pidato. Teks pidato yang pernah dibawakan oleh mantan Presiden Soekarno tidak seberbobot jika teks yang sama dibawakan oleh orang yang tidak pintar berpidato. Lantas bagaimana pembawaan yang menarik itu? Tampil dengan penuh keyakinan Seseorang yang tampil dengan ragu-ragu akan tampak dari mimik dan raut wajahnya. Bagaimana mungkin seseorang mau meyakinkan pendengar sementara sendiri ia tidak tampak meyakinkan? Dalam wajah seseorang yang penuh keyakinan akan tergurat sebentuk kepercayaan diri. Bandingkan dengan Stefanus. Stefanus yang penuh Roh-Kudus memberi kesaksian kepada orang banyak dengan penuh keyakinan. Dia bersaksi kepada tua-tua dan ahli-ahli Taurat. Mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat. Keyakinan inilah yang serentak akan membakar’ pengkhotbah dan para pendengarnya. Akan sangat berbeda jika seseorang mulai diliputi rasa cemas dan takut dalam berkhotbah. Orang yang mendengar pun akan ikut cemas dan tidak nyaman. Apa penyebab rasa takut dan cemas ini? Carl Gustaf Jung menyebut bahwa kecemasan kegugupan ini “ketidaksadaran kolektif.” Menurut teori ini, segala pengalaman batin nenek moyang kita sampai yang paling jauh pun, masih berbekas dalam jiwa manusia. Sekarang dalam situasi tertentu, perasaan-perasaan purbakala itu mau muncul lagi. Gugup cemas juga terjadi karena pengkhotbah terlalu memikirkan dirinya sendiri, nama baik dan kehormatannya. Atau bisa jadi, ia kurang mempersiapkan diri. Ia takut pendengarnya akan mengetahui kelemahannya ini. Untuk mengatasi kegugupan, pembicara seharusnya mempersiapkan diri sebaik mungkin, belajar menenangkan batin dan pernafasan, dan yakin bahwa kegugupan hanya bisa diatasi di dalam praktik. Dan lagi, rasa takut dan cemas pertanda positif juga bahwa kita tidak menilai diri lebih dari yang sebenarnya, tetapi realistis. Rasa takut menandakan bahwa orang memiliki kesadaran akan keberhasilan. Orang-orang profesional sendiri tidak luput dari penyakit ini. Mereka bisa karena biasa latihan. Tampil apa adanya Tampil penuh keyakinan memang sangat perlu. Tetapi tampil apa adanya jauh lebih penting lagi. Bukan pesimisme. Justru orang yang tampil artifisial lebih kerap mengundang antipati pendengar. Yang artifisial itu tidak menarik. Ingat pendapat Nietzsche “Pembicara yang mula-mula malu dan kikuk sedikit, dialah yang dapat simpati auditorium.” Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Masing-masing kepribadian itu unik dan menarik. Tampil sesaui kepribadian masing-masing akan sangat indah. Khotbah kiranya dibawakan oleh pembicara dengan disinari seluruh kepribadiannya yang unik itu. Pribadi itu lebih penting dari pada kata-katanya. Bahan khotbah yang cemerlang pun tidak menawan hati orang kalau diketahui si pembicara adalah manusia yang tidak ikhlas. Be your self, itulah yang utama. Kita perlu berhati-hati dalam meniru-niru orang lain terutama gerak-geriknya. C. H. Sporgeon menceritakan bahwa ada seorang pastor yang waktu berkhotbah meniru-niru gerak-gerik orang lain Ketika mengatakan bangkit dia mengangkat kedua tangannya. Tetapi ketika mengatakan “Lalu ia berbalik…” pastor itu berbalik lantas membelakangi pendengar. Spontan para pendengar menjadi riuh melihat gerak-gerik pastor tersebut. Varietas Delectat’ Berkhotbah sebagaimana tadi di atas adalah sebuah seni. Kita mau meng – hidup – kan teks yang mati’ itu lewat gaya berbicara dan variasi yang kita buat. Variasi versus monotonisme sangat menyenangkan. Sebuah kemajuan akhir-akhir ini bahwa banyak variasi khotbah dikembangkan. Ada yang mengemas khotbah dalam bentuk puisi, lagu, cerita, drama, dll. Khotbah juga bisa diselingi dengan musik instrumental, koor/vocal group yang tematis, menonton cuplikan film, dll. Harap diingat bahwa variasi hanyalah fasilitas facilis – e = mudah, forma dan bukan substansi. Janganlah variasi mangabaikan substansi iman, dan keduanya mesti dibedakan dan dihargai dalam tataran masing-masing. Hal-hal Praktis yang kerap Terlupakan Nafas “Dilihat dari segi psikologi, berbicara itu adalah menghembuskan nafas. Menurut tujuannya, berbicara berarti pertama-tama, bernafas yang benar,” demikian Erich Drach. Suara amat erat kaitannya dengan nafas. Suara yang tidak baik bisa disebabkan oleh pernafasan yang kurang baik. Karena suara terjadi bila selaput suara digetarkan oleh arus nafas yang keluar dan getaran itu bergaung dalam rongga kerongkongan, mulut, dan hidung. Ada empat cara bernafas yang kita kenal a. Pernafasan dada b. Pernafasan perut c. Pernafasan sisi dari rongga perut dan dada d. Pernafasan dalam dan penuh Pernafasan dalam dan penuh adalah kombinasi dari pernafasan dada, perut, dan sisi rongga dada dan perut. Seseorang yang pandai berbicara harus menguasai teknik ini. Suara “Bicaralah supaya kulihat engkau,” kata Orang Yunani. Kepribadian dan watak orang dikenal dari suaranya. Dalam nada suara dan cara berbicara kita terungkaplah manusia apakah kita. Modulasi suara sangat menentukan. Modulasi versus suara monoton. Modulasi berarti satu perubahan ritmis dari intonasi bahasa dalam hubungan dengan naik turunnya suara secara sadar. Oleh modulasi, orang dapat berbicara cepat dan lambat, kuat dan halus, tinggi dan rendah – atau kombinasi dan variasi sesuai dengan keinginan pembicara – dan di samping itu suara juga mengarakterisasi suara menjadi ramah, gembira, sedih, sayu, ironis, dll. Namun perlu juga mengetahui bahwa nada suara setiap orang perihal tinggi, sedang, rendah, dll erat terkait dengan kebudayaannya. Nada suara dan cara berbicara orang Surabaya berbeda dari orang Surakarta, beda nada suara Orang Batak dengan Orang Jawa. Untuk itu pengkhotbah harus mengenal siapa pendengar suku dan latar belakangnya. Tak menutup mata juga bagi pengkhotbah untuk berlatih terus untuk kualitas suara yang baik. Gerak-gerik dan Bahasa Tubuh Bahasa tubuh body language adalah gerak-gerik tubuh atau bagian tubuh seperti wajah, mata, alis, tangan, bahu yang dipergunakan untuk mengungkapkan dan menyampaikan maksud tertentu kepada orang lain. Bahasa tubuh yang juga dikenal dengan nama kinesics merupakan bentuk interaksi atau hubungan antar manusia, yang tidak menggunakan bahasa tertulis dan lisan. Bahasa tubuh mencakup berbagai ungkapan atau gerak tubuh. Pertanyaan “Perlukah gerak-gerik dan bahasa tubuh dalam berkhotbah” rasa-rasanya tidak pada tempatnya. Sebab gerak-gerik dan bahasa tubuh adalah bagian integral dari berbicara. Berbicara adalah gerak badan. Kita berbicara bukan hanya dengan mulut tetapi dengan seluruh badan. Seluruh badan ikut serta menyatakan dan menjelaskan apa yang diucapkan mulut. Orang yang terhambat dalam gerak-geriknya kurang berbakat untuk menjadi pengkhotbah yang baik. Perasaan dan humor cerita Tiga pilar yang saling terkait/integral dalam hidup manusia yakni rasio, kehendak, dan perasaan. Perasaan membuat manusia itu sungguh manusia. Ia membuat manusia sungguh dapat merasa, hadir’. Perasaan adalah sebuah fakta dalam hidup manusia. Karena pengaruh bawah sadar, perasaan itu unik adanya apa yang dirasakan seorang A tidak persis sama dengan yang dirasa seorang B. Perasaan-perasaan menjadi indikator tentang pribadi orang yang bersangkutan sedang senang, bosan, marah, lelah, dll. Indikator-indikator yang ditunjuk oleh perasaan-perasaan itu pada dirinya adalah murni dan subyektif. Oleh karena itu, perasaan harus juga diimbangi oleh rasio dan kehendak * perasaan marah —memukul! * rasio “Jangan pukul!!” * kehendak sadar mengapa harus tidak memukul. Perasaan tampaknya sangat sepele sehingga banyak pengkhotbah mengabaikannya. Namun, akhir-akhir ini makin disadari bahwa ritus yang terlalu kaku dan rasional menimbulkan suasana yang kering dan membosankan. Orang-orang modern yang dihantui jadwal yang padat, alur gerak yang serba cepat, persaingan-persaingan hidup tentunya amat merindukan sapaan afeksi dan perasaan yang hangat. Seorang pengkhotbah mau memesonakan pendengarnya, tetapi orang baru mau tertarik dan membuka diri untuk buah pikiran yang berharga kalau perasaan pun disentuh dan hati dihangatkan. Alangkah baiknya juga kalau seorang pengkhotbah pandai membungkus khotbahnya dengan ceritera, contoh, dan sindiran yang lucu. Hal kecil ini pun sering terlupakan. Padahal orang suka dihibur, orang suka tertawa. Kalau khotbah dibawakan dengan ceritera dan humor berbobot, pesannya lebih gampang diterima. Anthony de Mello, SJ, seorang guru rohani melukiskannya dengan sangat indah. …Guru-guru kerohanian umat manusia seperti Budha dan Yesus menciptakan sarana untuk menyingkirkan daya tolak dalam diri pendengarnya cerita. Mereka tahu bahwa kata-kata yang paling memikat yang dimiliki oleh setiap bahasa adalah “Pada suatu ketika….” Mereka tahu bahwa menolak kebenaran adalah biasa, tetapi menolak suatu cerita adalah tidak mungkin. Vyasa, pengarang Mahabarata berkata bahwa kalau kita mendengarkan cerita dengan cermat, kita tidak pernah akan menjadi orang yang sama lagi. Sebabnya ialah cerita itu akan menyelinap masuk ke dalam hati kita dan meruntuhkan tembok-tembok dan membuka jalan bagi yang ilahi. KESIMPULAN Sebagai kesimpulan baiklah diulang apa yang menjadi pokok bahasan kita dalam tulisan sederhana ini. Tulisan ini mau membahas 2 pokok sekaligus yang tak terpisahkan satu sama lain Isi khotbah homiletika material dan cara membawakan isi khotbah itu homiletika formal. Isi khotbah yang berbobot sangat penting tetapi paling menentukan adalah pembawaan pengkhotbah yang menyangkut bagaimana isi yang berbobot itu disampaikan. Isi khotbah yang “mati” mau dihidupkan dengan pembawaan memikat si pengkhotbah. Berkhotbah adalah tugas yang tidak gampang. Ia hanya bisa dilatih terus menerus lewat pengalaman dan praktik berkhotbah. Namun satu hal yang kiranya tidak diabaikan oleh pengkhotbah kualitas hidup pengkhotbah sendiri adalah khotbah yang hidup. “Verba docent exempla trahunt.” Memang kata-katalah yang mengajar tetapi contoh/teladan hidup jauh lebih memikat dan memukat jemaat beriman. Ini jauh lebih sulit karena memerlukan komitmen penghayatan sepanjang hidup pengkhotbah itu. Menutup tulisan ini baiklah ditekankan bahwa pengkhotbah harus belajar dan bercermin kepada siapa dan apa yang baik di luar dirinya. Diri pribadi tidaklah satu-satunya kebenaran mutlak. Orang yang mau berkembang adalah orang yang terbuka dan mau belajar dari mendengar orang lain. “Orang yang menyadari kelemahan-kelemahan dan kerapuhannya sendiri jauh lebih besar dari orang yang melihat malaikat, “ imbuh guru rohani Iskak dari Ninive. BIBLIOGRAFI Balela, Yoseph Solor. “Menata Hidup Dalam Perspektif Ensiklik FIDES ET RATIO dari Paus Yohanes Paulus II”. Dalam Rajawali. Tahun V, no. 02 Juni 2007, hlm. 153 Bertens, K. Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman. Yogyakarta Kanisius, 1983 de Mello, Anthony, Doa Sang Katak 2. judul asli THE PRAYER OF THE FROG. Diterjemahkan oleh I. Suharyo, Pr, M. Joko Prakosa, & Th. Surasto Pramuji. Yogyakarta Kanisius, 1990. Hamma, F., Iman dan Perasaan. Yogyakarta Kanisius, 1987. Ginting, Khotbah dan Pengkhotbah. Jakarta PT BPK Gunung Mulia, 2003. Hendrikus, Dori Wuwur, SVD. BERKOTBAH Suatu Petunjuk Praktis. Ende Penerbit Nusa Indah, 1985. ———– . RETORIKA.. Yogyakarta Kanisius, 1991. Hunsakar, Phillip L., Anthony J. Alessandra. Seni Komunikasi bagi Para Pemimpin. judul asli The Art of Managing People Diterjemahkan oleh A. M. Mangunharjana. Yogyakarta Kanisius, 1986. Kristianto, Eddy A., OFM. the ART of PREACHING, kiat sukses pewartaan sabda Jakarta Penerbit Obor Jakarta, 2004. Röthlisberg H. Homiletika Ilmu Berkotbah. Jakarta Badan Penerbit Kristen – Jakarta, 1967. Verrijt, Eduard, OFMCap. ELOQUENTIA Kursus Berpidato. Pematangsiantar SMU Seminari Menengah – Pematangsiantar, tanpa tahun penerbit. diktat
Unduh PDF Unduh PDF Apakah Anda harus mengajar atau berkhotbah beberapa kali seminggu? Artikel ini menjelaskan cara menyiapkan materi pengajaran atau khotbah Kristiani yang baik. Apabila sekali waktu Anda terpaksa mengajar atau berkhotbah tanpa persiapan, cara paling mudah dan cepat adalah menyalin teks yang sudah ada. Akan tetapi, materi tersebut belum tentu relevan bagi Anda dan audiens. Untuk menyiapkan materi pengajaran atau khotbah yang efektif, lakukan beberapa langkah berikut. 1Susunlah materi pengajaran atau khotbah yang mengacu hanya pada Alkitab dan bimbingan Roh Kudus untuk mewujudkan rencana Allah sesuai misi kongregasi. Sebelum menulis, berdoalah kepada Tuhan untuk memohon pencurahan Roh Kudus. 2Tentukan topik yang ingin dibahas. Pelajari Alkitab dan berdoalah untuk memohon bimbingan Roh Kudus supaya Anda mendapatkan inspirasi dan termotivasi untuk menulis. Anda harus memilih topik yang dilandasi oleh ayat-ayat Alkitab. Jangan pernah mengajar atau berkhotbah tanpa arah atau tujuan. Ikuti langkah berikut supaya Anda mampu menyiapkan materi pengajaran atau khotbah yang baik. 3 Siapkan draf materi dengan menyusun kerangka tulisan. Pilihlah topik yang Anda pahami dengan baik supaya Anda mampu menjelaskan dan mengajarkannya kepada audiens. Walau demikian, Anda tidak perlu menyiapkan materi seperti ingin menulis karya sastra, memberikan kuliah, atau mengarang esai. Alih-alih, buatlah tulisan sesuai panduan yang dijelaskan dalam metode Membuat Kerangka Tulisan Tiga Bagian. Cara terbaik menyampaikan pengajaran atau khotbah adalah dengan menghafal seluruh materi. Alih-alih menulis kalimat secara lengkap dan hanya membaca teks, gunakan kerangka tulisan yang disiapkan sebaik mungkin sehingga berfungsi sebagai pedoman yang mudah diikuti. Tulislah kata kunci dengan huruf yang lebih besar agar mudah dilihat dan diingat. Pengajaran atau khotbah seharusnya tidak dibawakan seperti pembicara atau politikus yang sedang berpidato atau berorasi sambil membaca teks di depan audiens, kecuali Anda adalah pembaca naskah yang sangat baik. Setiap kali mengajar atau berkhotbah, bahaslah topik yang baru atau berkesinambungan. 4Berbicaralah secara spontan seperti sedang berkomunikasi lisan, alih-alih hanya membaca naskah agar kalimat yang Anda ucapkan tidak terasa aneh. Dengan demikian, Anda akan lebih terinspirasi dan termotivasi sehingga terjalin komunikasi yang baik antara guru/pengkhotbah dan para murid atau jemaat kongregasi. 5 Jangan mengandalkan catatan yang sangat mendetail, tetapi jangan pula berbicara tanpa membuat persiapan atau kerangka sebaik mungkin kerangka materi dan naskah yang sudah disiapkan supaya Anda cukup melihat teks sekilas dan tidak perlu terus membaca catatan atau mengandalkan tulisan kata kunci yang hurufnya lebih besar agar tidak lupa. Akan tetapi, Anda boleh meletakkan catatan di meja agar siap digunakan jika dibutuhkan. 6Berbicaralah secara sistematis sesuai petunjuk dalam artikel ini agar inti materi yang Anda jelaskan/khotbahkan tersampaikan dengan baik. 7Buatlah kerangka materi dengan membagi topik bahasan menjadi tiga bagian sesuai petunjuk dalam metode berikut. Iklan 1 Sampaikan topik pengajaran atau khotbah. Jelaskan topik yang akan dibahas dan alasannya atau mengapa topik tersebut dianggap penting atau bermanfaat. Anda boleh memberikan informasi bernada humoris untuk menjelaskan pengertian yang benar dan keliru. Mulailah menjelaskan topik bahasan dengan menyajikan informasi yang alkitabiah atau peristiwa yang mendukung gagasan utama. 2 Sampaikan pesan dengan memberikan penjelasan mendetail. Berikan fakta pendukung dan jelaskan tokoh yang berperan, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa. Jelaskan juga informasi atau peristiwa lain yang relevan. Setelah menginformasikan topik yang akan Anda kembangkan lebih lanjut, Anda dan audiens atau jemaat mengetahui apa yang akan dibahas. Selain itu, Anda siap membuat kesimpulan dari materi yang dijelaskan. Dukunglah penjelasan gagasan utama dengan memberikan contoh, misalnya dengan menceritakan 1 atau 2 kisah dalam Alkitab, perumpamaan yang alkitabiah, bagian dari lagu, kegiatan gereja atau sejenisnya yang relevan dengan topik. Bersiaplah jika audiens/jemaat mengajukan pertanyaan/sanggahan, misalnya "Apa yang dimaksud dengan __________?" "Mengapa hal ini bisa terjadi?" "Bagaimana seandainya _________ nama peristiwa terjadi?" Anggaplah pertanyaan tersebut sebagai pertanyaan retorik tidak meminta jawaban dari audiens, kecuali dalam grup kecil lalu jawablah, misalnya"Bagaimana seandainya _________ nama peristiwa terjadi?" Anda atau siapa saja mampu melakukan _________ karena _________ berikan alasan, tetapi setelah itu..." isilah bagian kalimat yang kosong untuk menanggapi sanggahan atau menjawab pertanyaan. Jika Anda memberikan kesempatan kepada audiens untuk menjawab seperti di dalam kelas, jangan menentang jawaban mereka, kecuali jika Anda harus memberikan alasan, misalnya "Menurut pendapat saya, jawabannya adalah _______" sampaikan pendapat Anda. Jangan menilai pendapat atau jawaban audiens dengan memuji atau mengabaikan komentar yang mereka berikan. Anda boleh mengangguk untuk menunjukkan pengertian atau memberikan respons dengan mengucapkan satu atau beberapa kata, misalnya "Baik", "Oke", atau "Terima kasih". Selain itu, Anda bisa memberikan tanggapan tanpa menilai tidak mengatakan benar atau salah lalu arahkan diskusi dengan memberikan jawaban yang seharusnya. 3 Buatlah kesimpulan dengan menghimbau audiens agar mengambil tindakan atas topik yang baru saja dibahas. Ajaklah mereka menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Inilah cara mengakhiri pengajaran atau khotbah yang sudah Anda siapkan dan kembangkan, misalnya dengan meminta mereka menerapkan ide yang Anda sampaikan, berdoa, mengajak orang lain bertobat, belajar Alkitab, dll. Menyampaikan kesimpulan bisa menjadi kesempatan untuk memberikan tugas kepada audiens dengan meminta mereka melakukan hal-hal yang sudah disampaikan dalam pengajaran atau khotbah. Iklan 1Mintalah nasihat dan ide dari orang lain. Membahas berbagai ide dengan orang lain akan sangat bermanfaat. Akan tetapi, langkah ini sulit dilakukan jika Anda jarang bersosialisasi, berdiskusi dengan orang lain, malas belajar, dan tidak mempersiapkan diri dengan baik. 2Berdiskusilah dengan guru/pengkhotbah untuk mendapatkan ide baru. Akan tetapi, hal ini akan menjadi kebiasaan, menimbulkan ketergantungan, dan membuang-buang waktu apabila Anda berdua memiliki kebutuhan dan tujuan yang berbeda. 3 Gunakan teks khotbah dari buku lama dan baru kumpulan khotbah, tetapi sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Carilah teks khotbah yang Anda butuhkan melalui internet lalu gunakan untuk menyiapkan materi khotbah yang sama sekali berbeda. Teks khotbah yang Anda temukan mungkin bukan yang dibutuhkan apabila Anda hanya memilih materi yang sepertinya bermanfaat. Alih-alih menginspirasi atau memberikan informasi kepada audiens, Anda sendiri bahkan tidak mau membahas/mendengarnya. Isi teks khotbah belum tentu sesuai dengan gaya Anda mengajar, kebutuhan, preferensi, atau cara Anda berkomunikasi dengan audiens. Unduhlah teks untuk mengajar atau berkhotbah dari berbagai situs web Kristiani. Anda bisa mengunduh secara gratis berbagai teks khotbah yang sudah lama, tetapi bermanfaat. Siapkan kerangka materi khotbah menggunakan Power Point agar bisa dipresentasikan dengan menyajikan gambar, dokumen pendukung, jadwal ibadah, lis berisi ayat Alkitab, referensi silang, dan lagu yang ingin dinyanyikan. 4 Pertimbangkan apakah Anda perlu membeli program Alkitab yang dilengkapi penjelasan, kamus, dan referensi silang yang sangat situs web 25 versi Alkitab gratis dalam berbagai bahasa, misalnya Bible[1] dan Biblegateway[2] . Kedua situs web tersebut sangat berbeda dan bisa diakses secara gratis. Carilah informasi lebih lanjut dengan mengakses tautan di bagian bawah artikel ini. 5Berdoalah dan bacalah Alkitab setiap hari. Bersyukurlah kepada kepada Allah, buatlah catatan, pelajari dan renungkan ayat Alkitab. Bentuklah pola pikir yang benar supaya Anda mendapatkan inspirasi. Iklan Siapkan materi lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk mengantisipasi seandainya Anda berbicara lebih cepat dari jadwal agar tidak kehabisan bahan presentasi. Berdoalah memohon "Roh hikmat dan wahyu" untuk diri sendiri sesuai Efesus 116. Siapkan materi khotbah dan pikirkan gagasan yang akan disampaikan dengan menjawab pertanyaan berikut Apa topik khotbah Anda? Apa saja ayat Alkitab yang mendukungnya? Apa yang Yesus ajarkan dalam ayat tersebut? Apa gagasan utama khotbah Anda? Apa pertanyaan retorik yang ingin Anda ajukan kepada audiens? Tulislah gagasan bermanfaat dari topik khotbah sepanjang 2 halaman. Jika hanya setengah halaman, gantilah dengan topik yang lain sebab khotbah akan kurang menarik. Ingatlah bahwa Anda bisa kehilangan fokus lalu bertingkah seolah-olah sedang mengajar atau berkhotbah sekadar untuk menghabiskan waktu. Hal ini membuat Anda terpaksa berdiri di podium atau mimbar gereja sambil berbicara melantur karena tidak mempersiapkan diri dengan baik. Anda akan berusaha menutupi rasa bingung dengan menunjukkan antusiasme untuk memberikan kesan bahwa pengajaran atau khotbah Anda adalah hal yang sangat penting bagi Anda. Jadi, hal ini juga seharusnya penting bagi orang lain. Iklan Peringatan Jangan mengajar atau berkhotbah tanpa persiapan yang matang atau hanya untuk membahas 1-2 ayat Alkitab. Khotbah terburuk adalah ketika Anda merasa tidak siap. Anda tidak akan mampu berkhotbah dengan baik jika mengabaikan persiapan. Jika tidak siap, mungkin Anda akan menyanyi, berdoa, berteriak, berceloteh sambil melompat-lompat, menggebrak podium atau mimbar gereja, dan mengayun-ayunkan Alkitab karena teringat firman Allah yang mengatakan bahwa Anda hanya perlu membuka mulut dan Tuhan akan membantu Anda. Walau demikian, Anda harus mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum berkhotbah dan biarkan Roh Kudus membantu lebih dari yang Anda harapkan. Iklan Tentang wikiHow ini Halaman ini telah diakses sebanyak kali. Apakah artikel ini membantu Anda?
- Khotbah merupakan salah satu cara berdakwah menyebarkan nilai-nilai Islam. Berdasarkan makna kata, khotbah berasal dari kata khothoba, yakhthubu, khuthbatan yang bermakna memberi nasihat dalam kegiatan ibadah seperti; salat salat Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, Istisqo, Kusuf, wukuf, dan nikah. Pengertian khotbah menurut istilah adalah kegiatan ceramah kepada sejumlah orang Islam dengan syarat dan rukun tertentu yang berkaitan langsung dengan keabsahan atau kesunahan ibadah. Misalnya khotbah Jumat untuk salat Jumat, khotbah nikah untuk kesunahan akad nikah, dan lainnya. Khotbah akan diawali dengan pembacaan hamdallah, salawat, wasiat taqwa, dan doa. Menurut E-Modul PAI Kelas XI, khotbah termasuk aktivitas ibadah, sehingga khotbah tidak bisa ditinggalkan karena akan membatalkan rangkaian aktivitas ibadah. Dalam pelaksanaan salat Jumat, apabila tidak ada khotbah, maka salat Jumat tidak sah. Begitu pun dengan wukuf di Arafah, jika tidak ada khotbah, maka wukufnya tidak sah. Sesungguhnya, khotbah merupakan kesempatan yang sangat besar untuk berdakwah dan membimbing manusia menuju keridaan Allah SWT. Materi yang disampaikan dalam khotbah dapat berupa materi yang dibutuhkan oleh hadirin menyangkut masalah kehidupannya, dengan ringkas, tidak panjang lebar, dan dengan cara yang menarik serta tidak membosankan. Khotbah memiliki kedudukan yang agung dalam syariat Islam sehingga sepantasnya seorang khatib melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Syarat Khatib saat Khotbah Hal-hal berikut yang seharusnya dimiliki oleh seorang khatib saat akan berkhotbah Seorang khatib harus memahami aqidah yang benar sehingga dia tidak sesat dan menyesatkan orang lain. Seorang khatib harus memahami fikih sehingga mampu membimbing manusia dengan cahaya syariat menuju jalan yang lurus. Seorang khatib harus memperhatikan keadaan masyarakat, kemudian mengingatkan mereka dari penyimpangan-penyimpangan dan mendorong kepada ketaatan. Seorang khatib sepantasnya juga seorang yang fakih, mengamalkan ilmunya, tidak melanggar larangan sehingga akan memberikan pengaruh kebaikan kepada para pendengar. Rukun Khotbah Dilansir dari laman NU Jatim, berikut ini merupakan rukun khotbah 1. Memuji kepada AllahMemuji Allah dalam khotbah bisa diwujudkan dengan menggunakan kata hamdun’ dan lafaz-lafaz yang satu akar dengannya, misalkan alhamdu’, ahmadu’, nahmadu’. Demikian juga dengan pelafalan “Allah” tertentu menggunakan lafal jalalah, tidak cukup memakai asma Allah yang lain. Contoh pelafalan yang benar seperti “alhamdu lillâh”, “nahmadu lillâh”, “lillahi al-hamdu”, “ana hamidu Allâha”, “Allâha ahmadu”. 2. Membaca Salawat kepada Nabi Muhammad SAWPembacaan salawat kepada Nabi Muhammad harus dilakukan dalam khotbah. Dalam pelafalannya harus menggunakan kata “al-shalatu” dan lafaz yang satu akar kata dengannya. Sementara itu, untuk asma Nabi Muhammad, tidak tertentu menggunakan nama “Muhammad”, seperti “al-Rasul”, “Ahmad”, “al-Nabi”, “al-Basyir”, “al-Nadzir” dan lain-lain. 3. Berwasiat dengan Ketakwaan Berwasiat dengan ketakwaan juga harus disampaikan dalam kedua khotbah. Rukun khotbah yang satu ini memiliki ketentuan yang paten. Prinsip utamanya mengandung pesan kebaikan yang mengajak pendengarnya menjauhi larangan Allah dan istikamah di jalan-Nya. Seperti “Athi’ullaha, taatlah kalian kepada Allah”, “ittaqullaha, bertakwalah kalian kepada Allah”, “inzajiru anil makshiat, jauhilah makshiat”. 4. Membaca Ayat Suci Al-Qur’an Membaca ayat suci Al-Qur’an juga turut menjadi salah satu rukun khotbah. Standarnya adalah ayat Al-Qur'an yang dapat memberikan pemahaman makna yang dimaksud secara sempurna. Baik berkaitan dengan janji-janji, ancaman, mauizhah, cerita dan lain sebagainya. 5. Berdoa untuk Sesama umat Muslim Mendoakan semua umat muslim dilakukan pada khotbah terakhir. Doa ini berisikan permohonan yang mengarah kepada nuansa akhirat. Seperti “allahumma ajirnâ minannâr, Yaa Allah semoga engkau menyelematkan kami dari neraka”, “allâhumma ighfir lil muslimîn wal muslimât, ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat”.Baca juga Contoh Teks Khutbah Jumat Singkat Pekan Ini Mencintai karena Allah Tata Cara Khutbah Idul Fitri dan Contoh Teks Naskah Khotbah Ied Dalil Naqli, Landasan dan Hikmah Syaja'ah dalam Islam - Pendidikan Kontributor Nurul AzizahPenulis Nurul AzizahEditor Dhita Koesno
susunan khotbah yang baik adalah